Atasi Dampak Asap Rokok terhadap Kesehatan: Mahasiswa Farmasi dan Biologi UAD Kembangkan Inovasi Inhalasi Nanomucoadhesive Berbasis Minyak Atsiri Daun Nilam
Yogyakarta – Paparan asap rokok masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat. Berbagai senyawa toksik yang terkandung dalam asap rokok dapat memicu kerusakan saluran pernapasan, meningkatkan stres oksidatif, serta menyebabkan inflamasi kronis yang berujung pada berbagai penyakit, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kanker paru, penyakit kardiovaskular, hingga penurunan kualitas hidup. Bahkan, PPOK saat ini menjadi penyebab kematian terbesar ketiga di dunia, dengan sebagian besar kasus dipicu oleh paparan asap rokok aktif maupun pasif. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian dampak rokok tidak hanya memerlukan upaya pencegahan, tetapi juga inovasi terapi yang lebih efektif.
Paparan asap rokok secara terus-menerus menyebabkan kerusakan struktur bronkus dan alveolus, meningkatkan produksi mukus, serta memicu infiltrasi sel-sel inflamasi pada jaringan paru. Terapi yang selama ini digunakan, seperti kortikosteroid inhalasi, memang mampu mengendalikan peradangan, namun penggunaan jangka panjang berisiko menimbulkan berbagai efek samping, antara lain osteoporosis, pneumonia, hiperglikemia, hingga diabetes. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan terapi alternatif yang mampu bekerja langsung pada organ target dengan efektivitas tinggi serta meminimalkan efek samping sistemik.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap tingginya angka penyakit akibat asap rokok, tim mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan menginisiasi penelitian yang berfokus pada pengembangan terapi inovatif berbasis bahan alam Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei–Agustus 2026 di Laboratorium Struktur Fisiologi dan Tumbuhan, Laboratorium Struktur dan Fisiologi Hewan, Laboratorium Teknologi Farmasi, Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Tim peneliti terdiri atas M. Faiz Hasan (Program Studi Biologi), Muhammad Rifqi Rahadi (Program Studi Farmasi), Jenny Reinita (Program Studi Farmasi), Diva Iedhari Nisa (Program Studi Farmasi), dan Khayru Diaz Ravikhasyah Untoro (Program Studi Biologi) dengan dosen pendamping Haris Setiawan, S.Pd., M.Sc.
Melalui penelitian ini, tim mengembangkan inovasi formulasi nanomucoadhesive minyak atsiri daun nilam (Pogostemon cablin) terinkorporasi kitosan sebagai sistem penghantaran obat inhalasi (lung-directed drug delivery) untuk terapi PPOK. Inovasi tersebut memanfaatkan kandungan patchouli alcohol pada minyak atsiri daun nilam yang memiliki aktivitas antiinflamasi, kemudian dikombinasikan dengan kitosan sebagai polimer mucoadhesive untuk meningkatkan waktu retensi obat pada mukosa paru, melindungi senyawa aktif dari degradasi, serta meningkatkan efektivitas penghantaran obat langsung ke jaringan paru-paru. Diharapkan, inovasi ini dapat menjadi alternatif terapi PPOK yang lebih efektif, menggunakan dosis lebih rendah, mengurangi efek samping terapi konvensional, sekaligus menunjukkan potensi besar pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia melalui pendekatan nanoteknologi modern.

