Inovasi Kitosan sebagai Sistem Penghantaran Obat Inhalasi, Langkah Baru Mahasiswa UAD dalam Penanganan Penyakit PPOK
Yogyakarta – Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) masih menjadi salah satu penyakit pernapasan dengan angka kejadian yang terus meningkat akibat tingginya paparan asap rokok. Paparan zat toksik dalam asap rokok mampu memicu peradangan kronis, kerusakan alveolus, hingga penumpukan mukus yang menyebabkan fungsi paru-paru menurun secara bertahap. Meskipun terapi inhalasi telah menjadi pilihan utama dalam pengobatan PPOK, efektivitas obat sering kali terkendala oleh mekanisme pembersihan alami saluran napas (mucociliary clearance) yang menyebabkan obat cepat tereliminasi sebelum bekerja secara optimal.
Menjawab tantangan tersebut, pemanfaatan polimer alami mulai banyak dikembangkan sebagai sistem penghantaran obat modern. Salah satu bahan yang memiliki potensi besar adalah kitosan, biopolimer hasil deasetilasi kitin yang dikenal memiliki sifat biokompatibel, biodegradable, tidak toksik, serta mampu melekat pada lapisan mukosa (mucoadhesive). Karakteristik tersebut menjadikan kitosan mampu meningkatkan waktu tinggal obat di saluran pernapasan, memperbaiki penyerapan zat aktif, serta memungkinkan pelepasan obat secara lebih terkontrol sehingga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas terapi PPOK.
Berangkat dari potensi tersebut, tim mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan mengembangkan penelitian bertajuk formulasi nanomucoadhesive minyak atsiri daun nilam (Pogostemon cablin) terinkorporasi kitosan sebagai sistem penghantaran obat inhalasi untuk terapi PPOK akibat paparan asap rokok. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei–Agustus 2026 di Laboratorium Struktur Fisiologi dan Tumbuhan, Laboratorium Struktur dan Fisiologi Hewan, Laboratorium Teknologi Farmasi, Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Tim peneliti terdiri atas M. Faiz Hasan (Program Studi Biologi), Muhammad Rifqi Rahadi (Program Studi Farmasi), Jenny Reinita (Program Studi Farmasi), Diva Iedhari Nisa (Program Studi Farmasi), dan Khayru Diaz Ravikhasyah Untoro (Program Studi Biologi) dengan dosen pendamping Haris Setiawan, S.Pd., M.Sc.
Inovasi yang dikembangkan tidak hanya memanfaatkan kitosan sebagai pembawa obat, tetapi juga mengombinasikannya dengan minyak atsiri daun nilam yang kaya akan senyawa patchouli alcohol beraktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Melalui teknologi nanomucoadhesive, kitosan berperan membentuk nanopartikel yang mampu melindungi senyawa aktif dari degradasi, meningkatkan adhesi pada mukosa paru, serta mengantarkan zat aktif langsung ke jaringan yang mengalami inflamasi. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan terapi inhalasi herbal yang lebih efektif, menggunakan dosis lebih rendah, meminimalkan efek samping terapi konvensional, sekaligus membuka peluang pemanfaatan biomaterial alami Indonesia sebagai inovasi farmasi berbasis nanoteknologi untuk penanganan penyakit akibat asap rokok.



